Indonesia Menanti Pemuda Berjiwa Wirausaha
Beberapa tahun terakhir jajaran pengusaha sukses di Indonesia tak lagi hanya didominasi oleh mereka yang berusia paruh baya. Wajah-wajah muda mulai mewarnai dunia wirausaha. Sebagai contoh, Setia furqon Kholid, pengusaha sekaligus motivator muda asal Bandung yang sudah terjun ke dunia entrepreneurship sejak usia 18 tahun. Mantan penerima beasiswa penuh penuh pada masa kuliahnya ini bukan berasal dari keluarga kaya yang mewariskan kerajaan bisnis. Namun di usianya yang baru menginjak 23 tahun ia telah memiliki beberapa unit usaha yang sudah merambah Sabang hingga Merauke. Yang lebih mengagumkan adalah prinsipnya dalam menyikapi kesuksesan, baginya sukses sendiri itu biasa, namun sukses akan bermakna besar ketika kita mampu menyukseskan orang lain.
Sekarang coba kita bandingkan dengan ribuan wajah muda yang bersaing memperebutkan kursi PNS yang berbanding terbalik dengan jumlah pelamar setiap tahunnya. Alhasil, setelah proses seleksi berakhir sedikit dari mereka tersenyum sumringah untuk memulai kerja sebagai abdi negara, tapi sebagian besar sisanya kembali menambah angka pengangguran intelektual muda di negeri ini.
Lantas, bagaimana dengan kita yang masih duduk di bangku sekolah? Akankah kita mengikuti jejak pemuda seperti Furqon atau para kompetitor bangku PNS? Apakah yang akan kita lakukan untuk menjadi pemuda Indonesia yang berbeda?
Coba sejenak kita ingat tema yang diangkat Menpora beberapa hari yang lalu, dalam sambutannya pada peringatan Sumpah Pemuda yang ke-83 : “Bangun pemuda indonesia yang berjiwa wirausaha, berdaya saing, dan peduli sesama”. Pesan tersebut seakan menggedor kesadaran pemuda Indonesia akan kenyataan bahwa persaingan global di berbagai bidang menuntut kita untuk menjadi pemuda yang mempunyai nilai lebih. Nilai lebih yang akan menunjukkan bagaimana pemuda sebagai agen pembangunan memiliki kemampuan survive dan berkembang di tengah tingginya arus globalisasi tanpa mengedepankan egoisme diri.
Memang untuk menjadi pemuda yang memiliki jiwa wirausaha dan daya saing tinggi sekaligus peduli sesama itu tidak mudah, tetapi tidak pula mustahil. Semuanya perlu diasah sejak kita menyadari betapa hal tersebut sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup di era global. Sebagai generasi muda kita masih memiliki kesempatan besar untuk belajar lebih banyak. Diantaranya adalah langsung action, misalnya dengan memulai bisnis kecil-kecilan sesuai minat kita dengan melirik peluang usaha di kampus atau di sekolah.
Selain kesadaran dan niat yang kuat dari pemuda sendiri, tentu saja kita memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Terutama dari pihak sekolah/kampus bisa memfasilitasi dan mendukung minat kewirausahaan siswa/mahasiswa melalui kegiatan ekstrakurikuler, UKM, atau sejenisnya tanpa terbatas oleh jurusan. Seperti yang sudah ada di Sampoerna School of Education (SSE) dengan SSE Entrepreneur Club-nya, meskipun merupakan kampus pendidikan dengan major bahasa Inggris dan Matematika namun geliat minat dan bakat kewirusahaan di kalangan mahasiswa terus tumbuh dan berkembang melalui Bussines Center SSE, usaha mandiri di luar kampus dan sebagainya.
Berikutnya adalah dukungan dari orang tua. Kerapkali hambatan terbesar bagi berkembangnya pemuda untuk belajar berwirusaha, datang dari lingkungan terdekatnya; keluarga. Banyak anak muda yang merasa diremehkan orangtuanya ketika memulai usaha kecil-kecilan. Padahal orang tua tidak harus mewariskan kerajaan bisnis atau modal usaha bagi anaknya, yang penting adalah bagaimana orangtua memberikan bimbingan dan respon positif bagi anak untuk menjadi pemuda yang mandiri. Hal tersebut merupakan salah satu tantangan bagi pemuda. Namun seiring berjalannya waktu banyak kisah sukses tentang pengusaha muda yang berani untuk memutus rantai pengangguran mampu mejawab tantangan itu.
Selain itu ada hal lain yang sering menjadi pertanyaan seorang pemuda ketika ia ingin berbisnis adalah, “modalnya dari mana? Pinjam butuh jaminan. Kalau bangkrut bagaimana?”. Sekarang sudah banyak pihak yang mulai peduli pada hal-hal tersebut. Beberapa LSM, yayasan atau sejenisnya yang bergerak di bidang bisnis bekerjasama dengan para investor mulai merangkul generasi muda. Seperti yang dilakukan MEKAR dari Sampoerna Foundation, Mien Uno Foudation, dll. Lembaga-lembaga sepoerti ini tidak hanya membantu dalam mendapatkan modal bisnis tetapi juga memberikan bimbingan bagaimana bisa berbisnis dengan baik.
Yang terpenting adalah bagaimana kita memantapkan dan membuka diri untuk belajar dan terus belajar menjadikan diri sebagai pemuda mandiri dan mampu berusaha, sekalipun itu kecil. Setelah kita yakin dan mantap dengan diri kita sendiri secara otomatis akan meyakinkan banyak orang di sekitar kita untuk mau ber-partner dengan kita.
Jadi, bagi generasi muda, baik pelajar dan mahasiswa, berbagai jalan sudah terbuka di depan mata kita untuk siap bersaing di era globalisasi ini. Pertanyaan yang menanti jawaban kita adalah: jika besar kesempatan berwirausaha sejak muda, mengapa harus menunggu lanjut usia?
warnadii
English Department – Sampoerna School of Education
01 januari 2013
“karena berbagi kisah itu indah”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar